Senin, 28 November 2011

RAGAM BAHASA ILMIAH


RAGAM BAHASA ILMIAH
Dirancang oleh:
Felisia Oktaviani
D0211042

Bahasa ilmiah merupakan ragam bahasa yang disusun menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang telah disempurnakan dan digunakan untuk kepentingan ilmiah. Menurut Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia Nomor : 0543a/U/1987 menyatakan bahwa “Bahasa Indonesia telah mempunyai kaidah penulisan (ejaan) yang telah dibakukan, yaitu Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan atau lebih dikenal dengan istilah EYD. Kaidah ejaan tersebut tertuang dalam buku :Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.”, Contoh kesalahan pada penulisan ejaan:
Salah
Benar
Keterangan
Manca negara
Mancanegara
Pemisahan kata yang tidak dapat berdiri sendiri
Minum air putih
Minum air-putih
Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah penfsiran
Menindak lanjuti
Menindaklanjuti
Kata jadian berimbuhan gabung depan dan belakang ditulis serangkai

Sehingga pembentukan kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf  pada penulisan bahasa ilmiah yang baik  adalah sesuai dengan kaidah pada bahasa Indonesia baku. Seperti halnya kata yang dipilih merupakan kata yang bermakna denotatif dan bersifat obyektif.  Yang dimaksud bermakna denotatif adalah kata-kata yang bermakna sebenarnya. Sedangkan kata-kata yang bersifat obyektif adalah kata-kata yang bersifat netral, tidak memihak dan tidak berorientasi pada gagasan yang dibahas. Sehingga pembaca tidak menebak-nebak, berprasangka, bahkan salah tafsir dari kata-kata yang diungkapkan oleh penulis.
Bahasa yang digunakan dalam bahasa ilmiah adalah bahasa pasif, yang dimaksud bahasa pasif adalah bahasa yang mengungkapkan bahwa penulis hanya berperan sebagai media penyampai maksud, dan bukan sebagai pelaku.Sehingga jangan sampai melakukan kesalahan pembentukan kalimat pasif dari kalimat aktif intransif.
Selain itu, agar pembaca terhindar dari kata-kata yang bermakna ganda, maka bahasa ilmiah diungkapkan secara lugas dan lengkap, yang dimaksud lugas dan lengkap adalah penyampaian yang langsung menuju pada sasaran yang dituju, sehingga para pembaca dapat memahami maksud dan tujuan dari penulis dengan baik dan tepat tanpa adanya kesalah pahaman dan penafsiran. Contohnya ada pada kata “memperlebarkan”, kata ini memiliki makna ganda yaitu memperlebar atau melebarkan. Kata-kata semacam ini yang seharusnya dihindari, tetapi jika penulis tetap ingin menggunakan kata-kata tersebut, sebaiknya penulis dapat lebih memperjelas maksud dari kata-kata tersebut.
Karena ragam bahasa ilmiah merupakan ragam bahasa yang digunakan oleh kaum terpelajar, maka kata-kata yang digunakan dalam bahasa ilmiah bersifat formal, contohnya dapat kita lihat dalam tabel berikut:
Formal
Non-Formal
Mengapa
Ngapa
Pria
Cowok
Menyapu
Nyapu
Kata-kata non-formal tersebut sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat awam, karena masyarakat telah terbiasa dan merasa lebih mudah untuk megucapkannya, terutama dikalangan kaum muda. Namun kata-kata non-formal tidak termasuk dalam ragam bahasa ilmiah karena kata-kata non formal bukan merupakan ejaan yang telah disempurnakan.
Konsistensi atau keajegan dalam menulis harus tetap dijaga, seperti pemilihan kata, penggunaan singkatan, frasa, klausa, kalimat, tanda baca dan paragraf. Sehingga pembaca dengan mudah memahami jalan pikiran penulis tanpa merasa adanya hambatan seperti jurang yang memisahkan kalimat satu dengan kalimat selanjutnya. Selain itu dalam sebuah paragraf  yang baik hanya ada satu ide pokok dan terdiri dari kalimat-kalimat yang mendukung satu ide pokok yang terkandung didalam paragraf tersebut. Contoh sebuah paragraf dari sebuah artikel berita menyatakan persetujuan tentang jembatan yang akan dibangun di desa suka maju. Maka semua kalimat yang ada di dalam paragraf tersebut menyatakan tentang persetujuan dilaksanakannya pembangunan jembatan di desa suka maju. Jangan sampai ada kalimat yang memiliki makna tersirat tentang keburukan-keburukan, dampak negatif dari pembangunan jembatan tersebut, karena secara tidak langsung kalimat tersebut dapat bermakna penolakan terhadap pembangunan jembatan di desa suka maju dan akan menimbulkan kebingungan terhadap pembaca. Kepaduan sebuah paragraf dalam sebuah wacana dapat juga dilakukan dengan cara mengulang bagian yang dianggap penting ke dalam sebuah kalimat dibagian akhir paragraf.
Penggunaan tanda baca yang tepat juga perlu diperhatikan, coba bandingkan ketiga kalimat ini:
1.      Dia sudah menyuruhmu pergi!
2.      Dia sudah menyuruhmu pergi?
3.      Dia sudah menyuruhmu pergi.
Walaupun kata-kata di ketiga kalimat tersebut sama, namun memiliki arti yang berbeda karena tanda baca yang berbeda pula. Pada kalimat pertama jika dibaca maka akan seperti memberitahukan bahwa dia sudah menyuruhmu untuk pergi dan diucapkan dengan nada tinggi seperti membentak, sedangkan pada kalimat kedua jika dibaca akan menanyakan apakah dia sudah menyuruhmu pergi dengan nada bertanya untuk memastikan hal tersebut. Berbeda hal dengan kalimat ketiga, pada kalimat ketiga seperti memberi tahu bahwa dia sudah menyuruhmu pergi dengan nada datar. Dari contoh tersebut kita dapat mengetahui betapa pentingnya penggunaan tanda baca untuk memberi penekanan pada sebuah kalimat tersebut.

Ide yang diungkapkan dalam ragam bahasa ilmiah merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk kegiatan ilmiah oleh kaum terpelajar, maka bahasa ilmiah juga bersifat informatif, yang dimaksud informatif adalah memberikan sebuah informasi pengetahuan yang diungkapkan secara langsung dan berdasarkan fakta. Ide atau informasi tersebut benar-benar sesuai dengan fakta yang diterima, serta dapat dibuktikan secara nyata. Sehingga ide yang diungkapkan dapat diterima dengan akal sehat dan  bukan sesuatu yang mengada-ada. Ide yang diungkapkan dalam bahasa ilmiah juga berisi dan padat, yang dimaksud padat dan berisi adalah semua hal yang ingin disampaikan telah terangkum dalam wacana tersebut tanpa adanya kata-kata yang berlebih dan tidak perlu.
Kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis adalah kesalahan dalam penalaran, dimana hal-hal yang diungkapkan tidak masuk akal dan dapat menimbulkan kerancuan. Selain itu terkadang penulis melakukan pemborosan kata, yang dimaksud pemborsan kata adalah menggunakan kata-kata yang memiliki makna sama atau dalam kalimat tersebut terdapat unsur yang tidak berguna. Contohnya pada kalimat “Saya akan segera turun kebawah.”, kalimat ini salah karena terjadi pemborosan kata dimana kata turun pasti menunjukkna kearah bawah. Maka kalimat yang benar adalah “Saya akan segera turun.” atau “Saya akan segera ke bawah.”.  Maka penulis harus pintar dalam memilih kata-kata yang akan digunakan.
Dalam penulisan bahasa ilmiah tidak asal menulis saja. Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa bahasa ilmiah memiliki ciri khas seperti cendikia dimana setiap pemilihan kata harustepat, gaya bahasa sesuai EYD, bermakna tunggal, ringkas dan padat, dan bersifat informatif. Sehingga gaya bahasa, kata-kata yang digunakan sesuai dengan karya ilmiah, paper, skripsi yang dibuat dan para pembaca dapat mengetahui langsung tentang jenis dan tujuan dari penulis. Pembaca juga dapat langsung menyesuaikan gaya membaca yang sesuai dengan apa yang dibacanya. Seperti saat membaca bahasa sastra yang banyak mengandung makna kiasan yang dapat membuat pembaca menafsirkan sendiri tentang apa yang dimaksud oleh penulis. Berbeda halnya saat kita membaca bahasa hukum, dimana kata-kata yang digunakan lebih membosankan, menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti karena istilah-istilah yang jarang kita dengar dan kurang komunikatif, maka kita harus membaca perlahan agar dapat memahami maksud dan isi wacana tersebut.



2.      http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/28/ciri-ciri-bahasa-ilmiah
3.      http://perkuliahan-perkuliahan.blogspot.com/2009/04/materi-kuliah-bahasa-indonesia1-05.html
4.      http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.mcgraw-hill.co.uk/openup/chapters/0335205984.pdf
5.      Keraf, Gorys. komposisi, Ende: Nusa Indah,2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar